Share It

Senin, 09 April 2012

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II PENGENALAN ALAT-ALAT

I.       PENGENALAN ALAT-ALAT
II.    TUJUAN
Diharapkan setelah menyelesaikan praktikum ini, Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan prosedur penggunaan alat-alat yang digunakan dalam laboratorium kimia pada saat kegiatan fraktikum.
III.  DASAR TEORI
Ilmu kiimia adalah salah satu ilmu yang didasarkan pada hasil percobaan dan/atau pengalaman di laboratorium, sehingga merupakan hal yang penting bagi setiap mahasiswa untuk mengetahui dan memahami praktik-praktik di laboratorium serta dapat menggunakan alat-alat praktikum secara benar.

Di dalam laboratorium kimia akan didapatkan berbagai macam alat muali yang sederhana, misalnya alat-alat gelas sampai pada alat yang cukup rumit, misalnya spektrofotometer, incubator, neraca analitik, dan sebagainya.

Selain itu terdapat alat-alat canggih yang digunakan serta memerlukan keahlian tersendiri, misalnya kromotografi gas dan spektrofotometer NRM.

 


Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa atau Praktikan, dosen, dan peneliti melakukan percobaan. Bekerja di laboratorium kimia tak akan lepas dari berbagai kemungkinan terjadinya bahaya dari berbagai jenis bahan kimia baik yang bersifat sangat berbahaya maupun yang bersifat berbahaya. Selain itu, peralatan yang ada di dalam Laboratorium juga dapat mengakibatkan bahaya yang tak jarang berisiko tinggi bagi Praktikan yang sedang melakukan praktikum jika tidak mengetahui cara dan prosedur penggunaan alat yang akan digunakan. Setiap percobaan kita selalu menggunakan peralatan yang berbeda atau meskipun sama tapi ukurannya berbeda. Misalnya untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit kita harus menggunakan gelas ukur bukan beaker glass ataupun erlenmeyer karena ketelitian gelas ukur yang tinggi dan memang untuk mengukur zat cair serta mudah digunakan, sedangkan beaker glass hanya sebagai wadah atu tempat larutan atau sampel, meskipun terdapat skala pada beaker glass namun skala ini tidak akurat dan tidak boleh digunakan untuk mengukur sampel yang sangat sensituf. Begitu pula dengan prosedur percobaan yang lain, kita harus bisa menyesuaikan dan menggunakan peralatan untuk praktikum tersebut.
Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana cara menggunakan alat – alat tersebut dengan tepat sehingga tidak akan mengganggu kelancaran praktikum dan tidak terjadi kecelakaan akibat dari kesalahan praktikan. Selain itu, pengenalan alat ini sangat penting demi kelancaran praktikum kita selanjutnya. Dalam sebuah praktikum, tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung menggunakan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum tersebut tanpa mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk menggunakannya.
Mengingat betapa pentingnya pengetahuan dan prosedur penggunaan peralatan laboratorium, meka praktikum pengenalan alat laboratorium dirasa penting agar setiap praktikum yang akan dilaksanakan dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa terjadi hal – hal yang tidak di inginkan.
Dalam sebuah praktikum, praktikan diwajibkan mengenal dan memahami cara kerja serta fungsi dari alat-alat yang ada dilaboratorium. Selain untuk menghindari kecelakaan dan bahaya, dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-masing alat, praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan sempurna (Walton, 1998).
Penanganan bahan sebelum melakukan praktikum sangat mempengaruhi hasil praktikum. Bahan yang mudah menguap diletakkan didalam wadah, bahan kimia yang dapat menimbulkan bahaya sebaiknya disimpan dalam sebuah lemari asam (Neilands, 1990).
Ada beberapa faktor yang sangat penting dalam mengetahui alat-alat yang ada dilaboratorium, yaitu masalah alat-alat yang digunakan dan adanya ketelitian praktikan dalam melakukan pengukuran dan perhitungan (Ibnu, 1976).

 


Suatu laboratorium harus merupakan tempat yang aman bagi para pekerja atau pemakainya yaitu para praktikan. Aman terhadap kemungkinan kecelakaan fatal maupun sakit atau gangguan kesehatan lainnya. Hanya didalam laboratorium yang aman, bebas dari rasa khawatir akan kecelakaan, dan keracunan seseorang dapat bekerja dengan aman, produktif, dan efesien (Khasani, 1990).
Pekerjaan dalam laboratorium biasanya sering menggunakan beberapa alat gelas. Penggunaan alat ini dengan tepat penting untuk diketahui agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Keadaan yang aman dalam suatu laboratorium dapat kita ciptakan apabila ada kemauan dari para pekerja, pengguna, maupun kelompok pekerja laboratorium untuk menjaga dan melindungi diri, diperlukan kesadaran bahwa kecelakaan yang terjadi dapat berakibat pada dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya. Tujuan dari praktikum pengenalan alat ini adalah untuk mengenal beberapa macam alat gelas yang sering digunakan dalam laboratorium dan penggunaanya (Ginting, 2000).


PERCOBAAN PEMBUATAN DAN PENGENCERAN LARUTAN HCl Dan LARUTAN NaOH
PENDAHULUAN
1.       Tujuan Percobaan
           Tujuan dari percobaan ini adalah :
1)      Untuk membuat larutan NaOH dan larutan HCl.
2)      Untuk mengencerkan larutan dan menghitung konsentrasi larutan.
2.      Latar Belakang
Ketika mempelajari kimia, dikenal adanya larutan. Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen mengandung lebih dari satu komponen. Komponen yang terdapat dalam jumlah besar disebut pelarut atau solvent, sedangkan komponen yang terdapat dalam jumlah kecil disebut zat terlarut atau solute.
Penerapan titrasi di dunia industri ada banyak sekali. Contohnya saja dalam penetapan kadar vitamin C dalam tablet vitamin C dan penetapan kadar asam dalam asam cuka, serta penentuan asam oksalat menggunakan permanganate. Karena itu, praktikan tentunya harus tahu dan memahami bagaimana cara menghitung konsentrasi larutan dan pengenceran larutan.
Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesalahan yang dapat membahayakan diri praktikan. Dengan begitu, praktikan tidak hanya pintar dalam teori, tetapi juga dalam praktik dan penerapannya. Sehingga nantinya praktikan dapat mengolah bahan-bahan yang memiliki konsentrasi tinggi dan menguntungkan perusahaan, sehingga dapat meminimalisasi pengeluaran perusahaan.
Unsur merupakan zat-zat yang tidak dapat diuraikan menjadi zat lain yang lebih sederhana oleh reaksi kimia biasa. Unsur berfungsi sebagai zat pembangun untuk semua zat-zat komplek yang akan dijumpai. Senyawa merupakan zat yang terdiri dari dua atau lebih unsur dan untuk masing-masing senyawa individu selalu ada dalam proporsi massa yang sama. Unsur dan senyawa dianggap zat murni karena komposisiya dapat berubah-ubah (Brady, 1999: 35).
Bedasarkan keadaan fase zat setelah bercampur, maka campuran ada yang homogen dan heterogen. Campuran homogen adalah campuran yang membentuk satu fasa,yaitu mempunyai sifat dan komposisi yang sama antara satu bagian dengan bagian yang lain didekatnya. Campuran homogen lebih umum disebut larutan, contohnya air gula dan alkohol dalam air. Campuran heterogen adalah campuran yang mengandung dua fase atau lebih, contohnya air susu dan air kopi. Kebanyakan larutan mempunyai salah satu komponen yang lebih besar jumlahnya. Komponen yang besar itu disebut pelarut (solvent) dan yang lain adalah zat terlarut (solute) (Syukri, 1999: 391).
Untuk menyatakan banyaknya zat terlarut maupun pelarut, dikenal istilah konsentrasi. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara seperti persen berat, persen volume, molaritas, molalitas, fraksi mol, normalitas dan bagian persejuta.
a)      Persen Berat (gr ).
Perbandingan massa zat terlarut dengan massa larutan dikali 100%. Biasanya dipakai pada larutan padat-cair atau padat-padat.
b)      Persen Volume (L).
Perbandingan volume zat terlarut dengan volume larutan dikalikan 100% (untuk campuran dua cairan atau lebih).
c)      Molaritas (M).
Banyaknya mol zat terlarut dalam tiap liter larutan. Harga kemolaran dapat ditentukan dengan menghitung mol zat terlarut dan volume larutan. Volume larutan adalah volume zat terlarut dan pelarut setelah bercampur.
d)     Molalitas (m).
Molalitas adalah jumlah ml zat tterlarut dalam 1000gr pelarut murni.
e)      Fraksi Mol (X).
Perbandingan mol salah satu komponen dengan jumlah mol semua komponen.
f)       Normalitas (N)
Jumlah ekivalen zat terlarut dalam tiap liter larutan. Ekivalen zat dalam larutan bergantung pada jenis reaksi yang dialami zat itu, karena ini dipakai untuk penyetaraan zat dalam reaksi.
g)      Bagian Persejuta (ppm).
Miligram zat terlarut dalam tiap kg larutan, satuan ini sering dipakai untuk konsentrasi zat yang sangat kecil dalam larutan gas, cair atau padat.
Larutan-larutan yang tersedia dalam laboratorium umumnya dalam bentuk pekat. Untuk memperoleh larutan yang konsentrasinya lebih rendah biasanya dilakukan pengenceran. Pengenceran dilakukan dengan menambahkan aquadest ke dalam larutan yang pekat. Penambahan aquadest ini mengakibatkan konsentrasi berubah dan volume diperbesar, tetapi jumlah mol zat terlarut adalah tetap. Selain itu, pengenceran juga dapat dilakukan dengan cara terlebih dahulu menentukan konsentrasi dan volume larutan yang akan dibuat. Untuk menentukannya, tetap menggunakan rumus pengenceran.
Keterangan :
n        = mol awal
n       = mol sesudah pengenceran
M      = Konsentrasi molar awal
M      = Konsentrasi molar akhir
V       = Volume larutan awal
V      = Volume larutan akhir


IV.  ALAT Dan BAHAN

1.      Alat dan bahan pembuatan larutan HCl

a.       Alat
No
Nama Alat
Ukuran
Jumlah
1
Pipet tetes
Kecil
1
2
Pipet volume
10 ml
1
3
Labu ukur
250 ml
1
4
Labu ukur
50 ml
1

Gelas kimia
100 ml
1
b.      Bahan
No
Nama bahan
Satuan
Jumlah
1
HCl
0,5 M
10 ml
2
Aquades
-
Secukupnya

 

 


 


 


 

2.      Alat dan bahan pembuatan larutan NaOH

a.       Alat
No
Nama alat
Ukuran
Jumlah
1
Pipet tetes
Kecil
1
2
Labu ukur
250 ml
1
3
Gelas kimia
500 ml
1
4
Batang pengaduk
Kecil
1
5
Neraca analitik
-
1
b.      Bahan
No
Nama bahan
Satuan
Jumlah
1
NaOH
gram
2 gram
2
Aquades
-
Secukupnya

 

 


 


 


 


V.    PROSEDUR KERJA

A.    pembuatan larutan HCl 0.1 M
1.      10 ml larutan HCl 0.5 m diambil mengunakan pipet volume
2.      Larutan dimasukan kedalam labu ukur berukuran 50 ml.
3.      Aquades dimasukan ke dalam labu ukur menggunakan botol semprot hingga tanda terra.
4.      Labu ukur dikocok dan setelah selesai diberi label HCl 0.1 M.
B.     pembuatan larutan NaOH 0.2 M
1.      2 gram NaOH ditimbang
2.       NaOH dimasukan kedalam gelas kimia dan dilarut dengan aquades
3.      NaOH dan aquades diaduk menggunakan batang pengaduk sampai larut
4.      Setelah larut,larutan dipindah ke labu ukur
5.      Gelas kimia bekas pencampur NaOH dan aquades dicuci bersih menggunakan aquades dan airnya dimasukan lagi kelabu ukur
6.      Labu ukur diisi dengan aquades sampai batas terra
7.      Larutan diaduk dan diberi label NaOH 0.2 M

 


 


VI. DATA HASIL PENGAMATAN

1.      Labu ukur
Digunakan untuk membuat larutan dengan volume tertentu yang memerlukan ketelitian, untuk pengenceran atau melarutkan padatan dalam pembuatan larutan standar pada analisa volumetri, spektrofometri, dsb.
2.      Labu Erlenmeyer
Erlenmeyer berbentuk seperti kendi, yaitu memiliki bagian bawah yang lebar tetapi sempit di bagian kepalanya. Alat ini berfungsi sebagai tempat untuk pemanasan, kegunaan leher sempit untuk mengurangi penguapan pada saat pemanasan dan pada saat di aduk larutan tidak mudah tumpah.
3.      Kaki tiga
Berfungsi sebagai penopang kawat kasa saat melakukan pembakaran

4.      Spirtus
Berfungsi sebagi sumber panas saat melakukan pembakaran.

 


 



5.      Kawat Kasa
Berfungsi sebagai penompang bahan yang akan di panaskan saat melakukan pemanasan  dan mempermudah saat meletakkan zat atau benda yang akan dipanaskan.
6.      Gelas Kimia
Gelas kimia ini terbuat dari Pyrex karena tahan terhadap pemanasan hingga suhu 1500 Cdan tidak mudah retak, alat ini digunakan sebagai tempat pencampuran larutan dan tempat menyimpan sementara larutan serta tempat melarutkan larutan.

7.      Buret
Buret berbentuk panjang serta ada krannya di bagian bawah, alat ini berfungsi sebagai alat atau tempat untuk digunakan titrasi asam dan basa.

8.      Gelas Ukur
Bejana ini digunakan untuk mengukur tetapi tidak digunakan untuk mengukur teliti.


9.      Corong Pemisah
Alat ini berfungsi untuk memisahkan dua larutan yang sulit dipisahkan, digunakan pada proses ekstraksi dan volume harus terisi dua per tiga dari kapasitas dan larutan yang diambil yang dibawah.

10.  Pipet Volume
Alat ini berfungsi untuk memindahkan cairan dari tempat satu ke tempat lainnya dengan ketelitian yang tinggi.

11.  Pipet skala/ukur
Berfungsi sama dengan pipet volume yaitu memindahkan cairan dari tempat satu ke tempat lainnya tetapi ketelitiannya kurang kalau dibandingkan dengan pipet volume.
12.  Pipet Tetes
Berfungsi untuk mengambil atau menambahkan cairan sedikit demi sedikit.



13.  Tabung Reaksi
Alat ini namanya tabung reaksi, berfungsi sebagai tempat mereaksikan zat-zat kimia yang akan direaksikan.


14.  Termometer
indexe.jpgBerfungsi sebagai pengukur suhu zat atau larutan
15.  Penjepit Tabung Reaksi
index.jpgUntuk menjepit tabung reaksi pada saat dipanaskan


16.  Rak Tabung Reaksi
Umunya rak ini terbuat dari kayu, alat ini berfungsi sebagi tatakan atau tempat meletakan tabung reaksi yang sedang digunakan untuk menunggu reaksi dan juga sebagai tempat menyimpan tabung reaksi.
17.  Timbangan Analitik
Alat ini digunakan sebagai tenpat untuk menimbang zat-zat yang akan ditimbang. Cara pemakaiannya adalah pertama di colokkan kabel ke stop kontak, selanjutnya tekan tombol power, selanjutnya tunggu timbangan berkalibrasi, setelah selesai berkalibrasi nolkan angka di layarnya dengan cara menekan tombol zero, setelah itu bersihkan bagian dalam timbangan dan masukan zat yang akan di timbang ke dalamnya setelah dimasukkan tutup kacanya dan tunggu hingga angkanya berhenti.
18.  Botol Semprot
Botol semprot ini berfungsi sebagi tempat aquades agar mudah dalam menuangkan aquades ke alat-alat yang akan di cuci karena sudah digunakan dalam praktik.


19.  Bola Hisap
Alat ini terbuat dari karet. Berfungsi untuk menghisap cairan dari bejana ke pipet.




20.  Pengaduk gelas
Digunakan untuk mengaduk suatu campuran pada waktu melakukan reaksi-reaksi kimia, juga dipakai sebagai alat bantu pada waktu menuangkan cairan dalam proses penyaringan


VII.                      PERHITUNGAN Dan PEMBAHASAN
1.      pembuatan larutan HCl
.=.
                   0.5 M  = 50 ml . 0.1 M
         =
 = 10 ml
HCl atau asam klorida merupakan asam kuat dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. HCl memiliki massa molar 36,46 g/mol, berpenampilan berupa cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat. Titik leleh HCl adalah 27,32C (247 K) dalam larutan 38 % dan titik didih 110C (383 K) larutan larutan 20,2 %, 48C (321 K) larutan 38%. Asam klorida harus ditangani dengan memperhatikan keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif (Wikipedia, 2011).
Pada proses pembuatan larutan NaOH, dengan menembakan akuades ke dalam labu takar sampai pada titik tera, dan kemudian mengocoknya sampai homogen, maka terjadi reaksi ditandai dengan larutan menjadi panas, terjadi reaksi eksotermal, dan ketika diencerkan larutan menjadi bening. Reaksi kimia yang terjadi.
Berdasarkan percobaan setelah melarutkan HCl 0.5 M yang dicampur dengan aquades didapat konsentrasi larutan HCl 0,1 M 10 ml. Dari sini diketahui bahwa reaksi pelarutan HCl pekat merupakan reaksi eksotermik, yaitu reaksi yang melepas kalor. Pada reaksi eksoterm, sistem melepas energi. Oleh karena itu, entalpi system akan berkurang. Artinya entalpi produk (Hp) lebih kecil daripada entalpi pereaksi (Hr). Akibatnya perubahan entalpi merupakan selisih dari entalpi produk dengan entalpi pereaksi (Hp-Hr) bertanda negatif. Sehingga dapat dinyatakan :
ΔH = Hp – Hr < 0 ;      ΔH = -92,30 kj/mol
Jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung eksotermik, maka reaksi itu akan melepas kalor dari larutan itu sendiri, sehingga larutan itu akan panas. Bila reaksi eksotermik, maka zat-zat kimia yang terlibat akan terjadi perubahan energi potensial. Dalam perubahan eksotermik, energi potensial dari hasil reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi, berarti Ep akhir lebih kecil dari Ep mula-mula. Sehingga harge Ep mempunyai harga negatif. Reaksi pembuatan larutan HCl adalah :
HCl + HO            HCl pekat

 


 


 


 


2.      pembuatan larutan NaOH 0.2 M
M NaOH = M x  x Mr NaOH
                 = 0.2 x 0.025 x 40
                 = 0.2 gram
Natrium Hidroksida atau NaOH, juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. NaOH murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pellet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50 %. Ia bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Massa molarnya adalah 39,9971 g/mol. Titik lelehnya sebesar 318C (591 K) dan itik didihnya 1390C (1663 K). NaOH banyak digunakan di berbagai industry, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan detergen (Wikipedia, 2011).
Sedangkan dalam proses pembuatan larutan NaOH, ada NaOH padat yang dilarutkan dengan air yang dihangatkan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan ketika dilakukan pengadukan akan mempercepat kelarutan NaOH dalam air dan larutan NaOH menjadi homogen. Kemudian larutan NaOH dipindah ke labu ukur, dan gelas bekker yang dipakai untuk melarutkan NaOH tadi dibilas dengan akuades untuk menetralisir larutan NaOH yang tersisa di dalamnya. Larutan NaOH bersifat eksotermik, karena larutannya berubah menjadi lebih panas, yaitu reaksi yang membebaskan energi, sehingga entalpi sistem akan berkurang, artiya entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi. Oleh karena itu, perubahan entalpinya bertanda negatif. Sehingga dapat dinyatakan :
ΔH = Hp – Hr < 0 ;      ΔH = - 469 kj/mol
Jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung secara eksoterm, maka kalor yang timbul akan dibebaskan ke dalam larutan itu sehingga suhu larutan akan naik, dan jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung, maka zat-zat kimia yang terlibat akan terjadi perubahan energi potensial juga. Dalam perubshsn eksotermik, energi potensial dari hasil reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi, berarti Ep akhir lebih rendah dari Ep mula-mula. Sehingga, harga Ep mempunyai harga positif. Reaksi pembuatan larutan NaOH adalah :
NaOH + HO          NaOH

 








JAWABAN PERTANYAAN
Berdasarkan pembahasan di atas, adapun pengembangan materi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan.
1.      Cara penggunaan alat-alat kimia dan mengencerkan larutan dengan labu ukur.
a.       Cara menggunakan pipet
Sebelum digunakan, pipet harus dibilas dengan air mengalir. Masukkan larutan ke dalam wadah secara sembarang. Ambillah pipet yang akan digunakan  untuk mengambil larutan di dalam wadah. Masukkan pipet tersebut ke dalam wadah, kemudian tekan  bagian ujung pipet sampai larutan tersebut terisi penuh ke dalam pipet. Jangan ada gelembung yang tetinggal dibagian bawah pipet. Tekan kembali ujung pipet tersebut untuk mengeluarkan larutan dari pipet.
b.      Cara menggunakan buret
Tutup terlebih dahulu kemudian larutan dimasukkan ke dalam buret, di mulai dari bagian atas menggunakan corong gelas. Jangan mengisi buret dengan posisi bagian atasnya melebihi . Turunkan buret dan statifnya ke lantai agar jika ada larutan yang tumpah dari corong tidak terpecik ke mata. Jangan ada gelembung yang tetinggal dibagian bawah buret. Jika sudah tidak ada gelembung, kran ditutup. Kemudian isi buret hingga melebihi skala nol dan buka kembali kran sedikit untuk mengatur cairan agar tetap pada skala nol.
c.       Cara melipat kertas saring
Dengan melipat pada salah satu sisi menjadi dua bagian.
d.      Cara mengencerkan larutan dengan labu ukur
Ambil larutan (asam/basa) yang akan diencerkan dari tempat. Masukkan larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat ke dalam labu ukur sampai batas yang ditentukan.  Kemudian campurkan larutan tersebut dengan aquades. Kocok larutan tersebut sampai tercampur rata dan konsentrasi  mengalami pengenceran.
e.       Cara membersihkan alat
Alat-alat volumetrik harus bersih dan bebas dari lemak. Dapat menggunakan dengan sabun, atau jika sulit dibersihkan menggunakan larutan bikromat (K2Cr2O7 atau H2 Cr2O7) dan setelah dibersihkan, alat-alat tersebut disimpan dengan posisi terbalik.

 


 


 


 

f.       Cara memanaskan cairan
Cara memanaskan cairan harus memperhatikan kemungkinan terjadinya bumping  (meloncatnya cairan akibat peningkatan suhu drastis). Cara mencegahnya dengan menambahkan batu didih ke dalam gelas kimia.

1)      Pemanasan dengan tabung reaksi

Jepit tabung reaksi pada bagian dekat dengan mulut tabung. Posisi tabung ketika memanaskan cairan sedikit miring, aduk dan sesekali dikocok. Pengocokan terus dilakukan sesaat setelah pemanasan.

2)       Pemanasan dengan gelas kimia dan labu elenmeyer

Bagian bawah dapat kontak langsung dengan api, sambil cairan dikocok perlahan dan sesekali diangkat sampai mendidih.




2.      Cara menggunakan alat-alat pemanas, dan alat yang ada, serta fungsi alat tesebut
No.
Nama Alat
Cara Menggunakan
Fungsi
1.
Hotplat

Sebagai alat pembakar kimia
2.
Bunner
Masukkan spiritus ke dalam bunner dari lubang sampai penuh. Perhatikan spiritus sudah meresap ke sumbu bunner, jika sudah maka bunner siap untuk dinyalakan. Setelah memakai bunner matikan api dengan menutup sumbu menggunakan penutup yang sudah tersedia.
Sebagai alat pamanas zat kima, terdiri dari pipa pemasukkan gas, lubang pemasuk udara, pipa pencapur gas dan udara
3.
Pinggang porselin

Digunakan untuk meluapkan larutan sehingga lebih pekat atau kering dan mengristalkan, menyublinkan zat
4.
Kaca arloji
Letakkan kaca arloji di atas neraca dengan keadaan seimbang. Kemudian letakkan padatan kimia yang akan ditimbang pada kaca arloji.
Sebagai tempat untuk padatan kimia yang akan ditimbang dan berbentuk Kristal
5.
Cawan porselin
Sebelum digunakan, sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu. Masukkan padatan kimia ke dalam cawan, kemudian tumbuk sampai halus.
Untuk mereaksikan zat dalam suhu tingggi, mengabukan kertas saring, dan menguraikan endapan dalam gravimerti sehingga menjadi bentuk stabil
6.
Cawan petri

Untuk tempat pembiakan
7.
Pembakar gas

Sebagai alat pembakar
8.
Kertas saring

Digunakan untuk menyaring zat kimia
9.
Buret
Masukkan caiaran ke dalam buret dengan pipet. Kemudian lihat skala buret sampai batas yanag ditentukan.
Digunakan untuk mengeluarkan zat kimia dengan volume tertentu pada saat pentitrasian
10.
Statif
Letakkan statif pada tempat yang datar. Sehingga pada saat buret dimasukkan ke klem, posisi  cairan di dalam buret tidak miring.
Digunakan untuk menahan buret
11.
Penjepit buret (klem)
Masukkan buret ke dalam penjepit, kemudian putar skrup penjepit sampai erat.
Digunakan untuk menjepit buret pada saat pentitrasian
12.
Alas
Letakkan alas pada tempat yang datar sehingga tidak goyang.
Sebagai alas buret
13.
Kawat kasa
Letakkan kawat kasa dibagian  atas kaki tiga.
Sebagai alas dalam penyebaran panas yang berasal dari suatu pembakaran
14.
Kaki tiga
Letakkan kaki tiga pada tempat yang datar sehingga tidak goyang.
Digunakan untuk menyangga kawat kasa dalam pemanasan


 


 


 


 


 


 


 



VIII.                   KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan tentang alat-alat praktek, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Alat – alat gelas mempunyai fungsinya masing – masing dalam praktikum kimia sehingga diperlukan Pengenalan terhadap alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum tersebut.
2.      Diperlukan alat yang tepat dalam melakukan suatu praktikum, karena setiap alat memiliki tingkat ketelitian yang berbeda.
3.      Kesalahan dalam penggunaan alat akan sangat mempengaruhi hasil praktikum.
4.      Gelas Ukur memiliki ketelitian hingga 1 ml.
5.      Pipet ukur memiliki ketelitian hingga 0,01 ml.
6.      Penguasaan penggunaan alat akan sangat membantu dalam pelaksanaan praktikum selanjutnya.
Dari percobaan pengenceran dan pembuatan larutan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Pada proses pembuatan larutan HCl an NaOH tejadi reaksi eksoterm, yaitu perpindahan panas dan system ke lingkungan.
2.      Konsentrasi HCl pekat sebelumnya adalah 0.5 M, setelah hasil percobaan melalui proses pengenceran konsntrasinya menjadi 0.1 M.
3.      Setelah menimbang NaOH padat seberat 2 gram yang di larutkan dengan aquades diperoleh Konsentrasi larutan NaOH dari percobaan adalah 0.2 M.
SARAN
Saran yang dapat diberikan dari percobaan ini adalah diharapkan praktikan dapat lebih cekatan dalam mempersiapkan alat untuk percobaan dan dapat menguasai prosedur kerja dari percobaan dengan baik agar percobaan lancar dan selesai tepat waktu.

 


 


 


 


 


 


 


 


 


DAFTAR PUSTAKA

Day, R.A. Jr dan A.L. Underwood. 1986. “Kimia Kuantitatif Edisi Revisi, Terjemahan A.H. Pudjaatmaka”. Erlangga : Jakarta.

 

           Wanibesak, Emser. 2010. “Pembuatan, Pengenceran, dan Pencampuran Larutan”.
           http://wanibesak.wordpress.com

 

           Wikipedia. 2011. “Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedi Bebas, Natrium Hidroksida dan Asam Oksalat”.
           http://id.m.wikipedia.org

 

Syukri, S. 1999. “Kimia Dasar Jilid 2”. ITB : Bandung.


Moechtar. 1990. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Bogor : Regina.

 

Khasani. 1990. Prosedur alat-alat Kimia.Yogyakarta : liberty.



1 komentar: